Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Kemenhut Era Raja Juli Antoni Terbuka terhadap Akademisi dan Dunia Pendidikan

Kemenhut Era Raja Juli Antoni Terbuka terhadap Akademisi dan Dunia Pendidikan

  • account_circle Faqih Haq
  • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
  • visibility 107
  • comment 0 komentar

Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Kehutanan se-Indonesia (FOReTIKA) Mujetahid menilai kepemimpinan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni membawa semangat kolaboratif yang kuat. Terutama dalam menjalin sinergi dengan dunia akademik dan lembaga pendidikan tinggi kehutanan di seluruh Indonesia.

Sebagai Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua FOReTIKA, Mujetahid memandang Kementerian Kehutanan di bawah kepemimpinan Raja Juli Antoni selalu terbuka terhadap masukan dari berbagai perguruan tinggi kehutanan. Langkah ini dinilainya sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk membangun sektor kehutanan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

“Sebagai akademisi, saya melihat Kementerian Kehutanan selalu mengajak dan terbuka untuk mendapatkan masukan dari perguruan tinggi kehutanan seluruh Indonesia, untuk bersinergi menuju pembangunan kehutanan berkelanjutan dan berkeadilan,” ujar Mujetahid ketika dihubungi wartawan, Jumat (24/10/2025).

Menurutnya, keterbukaan tersebut tidak hanya bersifat simbolik, melainkan diwujudkan dalam berbagai kebijakan dan kegiatan konkret yang melibatkan unsur kampus.

Mujetahid menjelaskan, Kementerian Kehutanan memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk mengusulkan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK), terutama bagi kampus yang belum mendapatkan izin pengelolaan kawasan tersebut.

“Kementerian Kehutanan memberi ruang kepada perguruan tinggi kehutanan untuk mengusulkan KHDTK bagi yang belum mendapatkan izin mengelola kawasan hutan dengan tujuan khusus pendidikan,” katanya.

Selain itu, Menteri Kehutanan juga secara aktif mengundang perguruan tinggi kehutanan untuk memberikan masukan terhadap berbagai program dan kebijakan kementerian, termasuk dalam pembahasan kerja sama strategis antar lembaga.

“Menteri Kehutanan mengundang perguruan tinggi kehutanan untuk memberikan masukan terkait program Kemenhut, termasuk membahas program kerja sama,” lanjutnya.

Mujetahid menambahkan, kolaborasi dengan perguruan tinggi juga terlihat dalam partisipasi aktif kampus pada acara peluncuran rencana investasi Result Based Contribution (RBC) tahap keempat, serta layanan dana masyarakat untuk lingkungan (small grant) periode ketiga.

Program ini, menurutnya, membuka kesempatan bagi perguruan tinggi kehutanan untuk mengakses pendanaan riset dan pengabdian masyarakat di sektor kehutanan.

“Perguruan tinggi kehutanan diundang untuk memanfaatkan grant ini agar dapat memperkuat kontribusi akademik terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, Kementerian Kehutanan juga melibatkan kalangan akademik dalam sejumlah proses strategis, seperti penyusunan rencana operasional IFNET 2030, perhitungan PNBP pelepasan kawasan hutan, serta forum Rapat Kerja (Raker), Rakornas, dan monitoring–evaluasi kegiatan kementerian.

“Pelibatan ini menunjukkan bahwa pandangan akademisi menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan di sektor kehutanan,” kata Mujetahid.

Kolaborasi dalam Pendidikan dan Pengembangan SDM

Tidak hanya di level kebijakan, Kementerian Kehutanan juga memberikan dukungan terhadap peningkatan kapasitas mahasiswa melalui program Kuliah Forestry Update Course yang digelar untuk perguruan tinggi kehutanan di Indonesia.

“Kementerian Kehutanan bekerja sama dan memberi support dalam Kuliah Forestry Update Course kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Kehutanan Indonesia selama 16 kali pertemuan,” ujar Mujetahid.

Ia menilai kegiatan ini menjadi sarana penting untuk menyelaraskan wawasan mahasiswa dengan perkembangan terbaru di dunia kehutanan, sekaligus memperkuat jembatan antara teori akademik dan praktik di lapangan.

Menurut Mujetahid, rangkaian inisiatif kolaboratif tersebut mencerminkan karakter kepemimpinan Menteri Kehutanan yang inklusif, partisipatif, dan berorientasi hasil. Ia menilai capaian ini turut menjelaskan mengapa Raja Juli Antoni masuk dalam 10 besar menteri dengan kinerja terbaik versi Survei IndoStrategi.

“Sinergi dengan akademisi bukan hanya memperkaya kebijakan, tapi juga memperkuat legitimasi pembangunan kehutanan yang berbasis ilmu pengetahuan,” tutupnya.

  • Penulis: Faqih Haq

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wapres Gibran Bertemu Nelayan di Cirebon

    Wapres Gibran Dengar Langsung Keluhan Nelayan Cirebon

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
    • account_circle Faqih Haq
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Sejumlah nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyampaikan tiga aspirasi utama secara langsung kepada Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka yang berkunjung ke wilayah tersebut pada Kamis (23/10/2025). “Tadi kami menyampaikan tiga hal penting kepada Bapak Wapres. Pertama soal pendangkalan Sungai Selo Pengantin, kedua tentang infrastruktur, dan ketiga terkait jeratan […]

  • Ilustrasi Internet

    Kemkomdigi dan Kemendes PDT Kolaborasi Sediakan Internet untuk Ribuan Desa

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Faqih Haq
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Upaya memperkuat konektivitas digital di Indonesia terus digencarkan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) sepakat menjalin kerja sama untuk menyediakan akses internet di ribuan desa yang belum terjangkau jaringan. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dan Menteri […]

  • Blusukan ke Pasar Flamboyan Pontianak, Gibran Dengarkan Curhatan Pedagang

    Blusukan ke Pasar Flamboyan Pontianak, Gibran Dengarkan Curhatan Pedagang

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Orbitnews Co
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau aktivitas Pasar Flamboyan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu pagi (23/08/2025). Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Wapres untuk melihat langsung kondisi pasar tradisional terbesar di Pontianak sekaligus menyerap aspirasi pedagang terkait harga kebutuhan pokok. Kunjungan Wapres Gibran ini juga selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Agar pemerintah pusat dan […]

  • Saat Gibran Ajak Anak Yatim dan Siswa Sekolah Rakyat Belanja Perlengkapan Sekolah

    Saat Gibran Ajak Anak Yatim dan Siswa Sekolah Rakyat Belanja Perlengkapan Sekolah

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Orbitnews Co
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Usai meninjau kondisi pascagempa di Poso, Sulawesi Tengah, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pontianak, Kalimantan Barat, pada Jumat (22/08/2025). Di kota ini, Wapres mengajak Anak Yatim dan Siswa Sekolah Rakyat berbelanja perlengkapan sekolah di Toko Buku Gramedia. Kegiatan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah terus memperluas akses pendidikan […]

  • Purbaya Yudhi Sadewa

    Menkeu Purbaya Siapkan Sistem AI untuk Awasi Jalur Kepabeanan dan Cukai

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Faqih Haq
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berencana menyiapkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat pengawasan jalur kepabeanan dan cukai di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil setelah dirinya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Rabu (22/10/2025). Purbaya menilai sistem pengawasan yang ada saat ini belum optimal […]

  • Sekelumit Sejarah Istana Merdeka

    Sekelumit Sejarah Istana Merdeka

    • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
    • account_circle Orbitnews Co
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Istana Merdeka berawal dari sebuah istana kolonial yang dibangun pada 1873-1879 untuk gubernur jenderal Hindia Belanda, yang awalnya dikenal sebagai Paleis Koningsplein dan kemudian Istana Gambir. Setelah Indonesia merdeka, namanya diubah menjadi Istana Merdeka. Pada 27 Desember 1949 menjadi lokasi penandatanganan pengakuan kedaulatan RIS. Kini, Istana Merdeka berfungsi sebagai tempat upacara kenegaraan dan kediaman resmi […]

expand_less